Thursday, 30 May 2013

Kado untuk Bunda

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa... (lagu Kasih Ibu)
 
Aku masih ingat ketika Ibu Guru di sekolahku membacakan cerita tentang perjuangan ibu. Ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan, ibu yang berjuang ketika melahirkan anaknya, ibu yang menyusui kala anaknya masih bayi. Aku jadi terinspirasi untuk memberi kado untuk bunda di hari ulang tahunnya hari, sebagai tanda untuk membalas jasanya meski tak seberapa.

“Hari ini Bunda ultah. Aku harus kasih sesuatu buat Bunda,” tekadku dalam hati saat melihat kalender yang bertanda lingkaran merah, tepat di tanggal lahir bunda. Aku ingin bunda dapatkan sesuatu yang berharga dariku. Hari ini aku akan membelikannya setangkai bunga mawar di toko bunga di samping sekolahku.

Hari ini aku bersekolah dengan sangat riang, langkahku pun terasa lenggang. Aku benar terus berdendang dalam hati, “Bunda ultah, bunda ulang tahun. Bunga-bunga...yeay...!”

***

Telah kugenggam beberapa uang ribuan untuk membeli bunga, uang itu telah kukumpulkan selama seminggu demi membeli kado ulang tahun spesial untuk bunda.

“Kak, beli mawar merah dan mawar putih ya,” teriakku di depan toko bunga sepulang sekolah. Aku sangat ingat, bunda sangat suka mawar putih dan merah.

“Dua puluh ribu ya, Neng!” ujar kakak penjual bunga, dan langsung kuserahkan semua uang yang ada di genggamanku.

Tiba-tiba... “Maaf ya, uangnya kurang. Uang kamu cuma 10 ribu, sedangkan bunga ini harganya 20 ribu,” ucap penjual bunga itu. Aku kaget bukan main. Bunga-bunga yang kugenggam tadi pun langsung ditarik kembali oleh penjualnya.

“Tidak dapat dua bunganya dengan uang segini, Kak?” tanyaku. “Tidak bisa!” kata kakak penjual bunga.
Aku langsung lemas. Bagaimana mungkin aku tidak membelikan apa-apa untuk Bunda. Hari ini Bunda ulang tahun. Apa yang harus aku berikan untuk Bunda?

***

Aku pulang dengan tangan hampa, dan dirundung kesedihan. “Ada apa dengan anak Bunda? Kok suntuk begitu sih?” kata Bunda saat melihatku masuk rumah.

“Bunda, maafin Caca. Caca nggak bisa memberi kado apa-apa untuk Bunda.”

“Kado apa, Sayang? Bunda nggak minta apa-apa kok sama Caca,” ujar bunda dengan tersenyum tulus.

“Bunda, tapi bunda hari ini ulang tahun. Caca mau balas kebaikan bunda pada Caca selama ini...” aku mulai menangis terisak.

“Tidak usah Caca, Bunda melihat Caca tersenyum saja sudah cukup kok,” Bunda menghapus air mataku. Ia pun mencubit lembut kedua pipiku dan memerintahkanku untuk tersenyum. “Kebahagiaan Caca adalah kebahagiaan Bunda juga, Sayang. Kamu masih terlalu kecil, tak perlu untuk memberi kado apa-apa buat Bunda. Yang penting Caca tersenyum, menjadi anak yang pandai, semua itu kado terindah untuk Bunda.”

“Maafin Caca ya, Bunda...”

“Nggak apa-apa, Sayang.” Aku dan Bunda tersenyum dan berpelukan.

“Ada apa nih minta maaf sama bunda?” tiba-tiba ayah menghampiri kami. “Aku tidak bisa memberi kado untuk Bunda,” ujarku dengan masih terisak.

“Loh, kok gitu aja nangis. Begini saja, Caca menyanyi untuk bunda. Pasti bunda senang.”

“Benar, Ayah?” aku langsung bangun dari pelukan bunda.

“Tentu saja!” ayah mencoba meyakinkanku. Aku pun mulai bersiap untuk menyanyi.

“Satu-satu, aku sayang bunda. Dua-dua, aku sayang bunda. Tiga-tiga, juga sayang bunda hehe...” aku bernyanyi riang sambil mengubah sedikit lirik sebuh lagu anak-anak tersebut. Bunda langsung mencium keningku, “Makasih ya, Sayang…”

Aku merasakan kesejukan hari itu. Meski aku tidak bisa memberikan apa pun untuk ulang tahun bunda, tapi aku bisa membuat bunda tersenyum. Bunda, aku berjanji, jika aku besar nanti, aku akan membalas semua jasamu. (dw)


Sumber : Cerpen Remaja, Muzakki
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

0 comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Widgets

Copyright © LifeStyle3 Design by LifeStyle3 | Blogger Theme by LifeStyle3 | Powered by Blogger